Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

KOREKSI PRESIDEN PADA GURU


MENCERMATI KOREKSI PRESIDEN TERHADAP GURU
Oleh : TOTO WARSITO,M.Ag.

Menarik untuk dicermati apa yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Peringatan Hari Guru Nasional 2011beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu Presiden menyampaikan koreksinya terhadap guru. , terutama yang telah lulus sertifikasi. Paling tidak ada tiga koreksi yang disampaikan Presiden. Pertama guru yang sudah lulus sertifikasi dan telah menerima tunjangan sertifikasi masih banyak yang belum meningkat kinerjanya. Kedua sebagian guru masih belum menunjukkan kesadaran, kepedulian dan tanggung jawab terhadap sekolahnya sehingga lebih tertib dan teratur, sehinga sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter belum menunjukkan hasil maksimal. Ketiga Presiden menilai bahwa masih ada guru yang belum benar-benar menjadi panutan. (Radar,1 Des 2011).
Apa yang disampaikan Presiden tersebut mestinya dijadikan sebagai pemicu bagi para guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Betapa tidak, sekarang profesi guru sedang banyak disorot. Dengan telah ditingkatkannya penghasilan guru melalui program sertifikasi, tentunya membawa konsekuensi tersendiri bagi guru untuk terus meningkatkan kinerjanya.
Memang jabatan guru ini meminjam istilah Uzer Usman adalah jabatan yang unik.  Mengajar yang merupakan salah satu tugas pokok guru, merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada peserta didik, sangat tergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar merupakan suatu perbuatan atau pekerjaan yang bersifat unik, tetapi sederhana. Dikatakan unik menurut Uzer Usman karena ia berkenaan dengan manusia yang belajar, yakni peserta didik, dan yang mengajar, yakni guru, dan bertalian erat dengan manusia di dalam masyarakat yang kesemuanya menunjukkan keunikan. Bahkan, saking luasnya wilayah kerja  guru, menurut Prof. Mahmud Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung, bahwa wilayah kerja guru terutama guru PAI itu meliputi dunia dan akhirat beserta isinya.  Dikatakan sederhana karena mengajar dilaksanakan dalam keadaan praktis dalam kehidupan sehari-hari, mudah dihayati oleh siapa saja.
Pemahaman akan pengertian dan pandangan mengajar akan banyak memengaruhi peranan dan aktivitas guru dalam mengajar. Sebaliknya aktivitas guru dalam mengajar serta aktivitas siswa dalam belajar sangat bergantung pula pada pemahaman guru terhadap mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan mengandung makna yang lebih luas, yakni terjadinya interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya yang cukup kompleks.
Jabatan guru memang memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas, dalam bentuk pengabdian. Apabila dikelompokkan terdapat tiga jenis tugas guru, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas  dalam bidang kemasyarakatan.
Sebagai sebuah profesi pekerjaan sebagai guru paling tidak memiliki sepuluh kriteria untuk dapat disebut sebagai bidang profesi. (Tafsir,2011). Pertama, profesi harus memiliki suatu keahlian yang  khusus. Artinya keahlian itu tidak  dimiliki oleh profesi lain. Keahlian ini diperoleh dengan mempelajarinya secara khusus. Kedua, profesi harus dijadikan sebagai pemenuhan panggilan hidup. Oleh karena itu , profesi dikerjakan sepenuh waktu. Sebagai panggilan hidup artinya profesi itu dipilih karena dirasakan itulah panggilan hidupnya, artinya itulah lapangannya. Profesi itu dipilih bukan karena panggilan uang, bukan karena panggilan kedudukan, bukan pula karena terbawa-bawa oleh orang lain. Jadi, ada suatu kesungguhan dalam memilih profesi. Dilakukan sepenuh waktu maksudnya profesi itu dijalani dalam jangka panjang bahkan seumur hidup. Jadi bukan dilakukan secara part-time, melainkan full-time; bukan dilakukan sebagai pekerjaan sambilan atau pekerjaan sementara yang akan ditinggalkan bila ditemukan pekerjaan lain yang dirasakan lebih menguntungkan.
Ketiga, profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal. Artinya, profesi itu dijalani menurut teori-teorinya. Agar pemegang profesi dapat segera mengetahui adanya teori-teori baru, maka diperlukan adanya organisasi profesi. Organisasi ini menyediakan media profesi (bulletin,majalah). Dengan memuat temuan baru dalam media itu, teori baru itu dapat segera diketahui dan diuji oleh rekan seprofesi. Keempat, profesi adalah untuk masyarakat, bukan untuk diri sendiri. Maksudnya ialah profesi itu merupakan alat dalam mengabdikan diri pada masyarakat  bukan untuk kepentingan diri sendiri seperti untuk mengumpulkan uang dan mengejar kedudukan. Meskipun demikian pemegang profesi boleh menerima uang dan kedudukan, tetapi hal itu hanyalah sebagai penghargaan masyarakat atau Negara terhadap profesi. Karena profesi adalah untuk masyarakat maka wajarlah bila masyarakat membiayainya.
Kelima, profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostic dan kompetensi aplikatif. Kecakapan diagnostic adalah kemampuan mendiagnosa sementara kompetensi aplikatif adalah kewenangan menggunakan teori-teori yang ada di dalam keahliannya. Penggunaan itu harus didahului oleh diagnosis. Seorang yang tidak mampu mendiagnosis tentunya tidak  berwenang melakukan apa-apa terhadap kliennya. Kewenangan aplikatif biasanya berdasarkan surat keterangan, berupa ijazah atau sertifikat, yang menunjukkan kewenangan seseorang pemegang suatu profesi. Keenam, pemegang profesi memiliki otonomi dalam melakukan profesinya. Ketujuh, profesi hendaknya mempunyai kode etik, ini disebut kode etik profesi. Gunanya untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan profesi.
Kedelapan, profesi harus mempunyai klien yang jelas. Klien di sini maksudnya adalah pemakai jasa profesi. Kesembilan, profesi memerlukan organisasi profesi, gunanya untuk keperluan meningkatkan mutu profesi itu sendiri. Kesepuluh, mengenali hubungan profesinya dengan bidang-bidang yang lain.
Tugas guru dalam bidang kemanuasiaan meliputi bahwa guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga menjadi idola para siswanya. Pelajaran apa pun yang diberikannya, hendaknya dapat menjadikan motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila soorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada para peserta didiknya. Para siswa akan enggan  menghadapi guru yang tidak menarik. Pelajaran tidak dapat diserap sehingga siswa mulai bosan menghadapi pelajaran yang diberikan oleh guru.
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang terhormat di lingkungannya, karena dari guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju kepada pembentukan manusia Indonesia yang paripurna.
Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, apalagi bagi suatu bangsa yang sedang membangun. Semakin akurat para guru melaksanakan tugas profesinya, semakin terjamin terciptanya manusia pembangunan. Dengan demikian, potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para guru di tengah-tengah masyarakat.
Sejak dulu sampai sekarang , dan mudah-mudahan sampai di masa yang akan datang, menjadi panutan masyarakat. Guru tidak hanya diperlukan oleh para peserta didik di ruang-ruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat lingkungannya dalam menyelesaikan berbagai per-masalahan yang dihadapi. Tampaknya masyarakat mendudukan guru pada tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat, yakni di depan member suri teladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberikan dorongan dan motivasi. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Kedudukan guru yang demikian itu merupakan penghargaan dari masyarakat yang tidak kecil artinya bagi guru, tetapi juga sekaligus merupakan tantangan yang menuntut prestise dan prestasi yang senantiasa terupuji dan teruji dari setiap guru, bukan saja di depan kelas, tidak saja di batas-batas pagar sekolah, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat. Wallahu’alam.


Penulis :
Sekretaris MGMP PAI Provinsi Jawa Barat,Dosen STAI PUI Majalengka Ketua Agupena Kab. Majalengka


Sabtu, 07 April 2012

KARAKTER BANGSA


PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA  APA DAN BAGAIMANA ???
Oleh : TOTO WARSITO,S.Ag.M.Ag.*
Munculnya kembali gagasan tentang pendidikan karakter bangsa, seperti yang diintruksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, harus diakui sebagai tamparan keras terhadap dunia pendidikan. Hal ini berkaitan erat dengan semakin berkembangnya pandangan dan penilaian dalam masyarakat, bahwa pendidikan dalam berbagai jenjang “telah gagal” dalam membentuk peserta didik yang memiliki akhlak, moral, karakter dan budi pekerti yang baik. Lebih jauh lagi, banyak peserta didik sering dinilai tidak hanya kurang memiliki kesantunan, baik di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat, tetapi juga sering terlibat dalam tindakan kekerasan massal. Banyak diantara mereka yang alim dan bijak di rumah, tetapi nakal di sekolah. Begitu juga sebaliknya. Terlibat dalam tawuran, geng motor, penggunaan obat-obat terlarang, seks bebas dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya.
Apa sebenarnya yang disebut dengan Pendidikan Karakter Bangsa itu ? Menurut Simon Philips  (2008), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema A (2007) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ”ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.
Sementara Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian . Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.
Sedangkan Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.
Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter itu berkaitan erat dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas moral yang baik. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini didukung oleh Peterson dan Seligman (Gedhe Raka, 2007:5) yang mengaitkan secara langsung ’character strength’ dengan kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah bahwa karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan bangsanya.
Kita semua patut bersyukur telah diingatkan kembali tentang pentingnya pendidikan karakter bangsa ini. Memang kita patut menyadari bahwa selain memperkecil resiko kehancuran, karakter juga menjadi modal yang sangat penting untuk bersaing dan bekerja sama secara tangguh dan terhormat di tengah-tengah bangsa lain. Karakterlah yang membuat bangsa Jepang cepat bangkit sesudah kekalahannya dalam Perang Dunia II dan meraih kembali martabatnya di dunia internasional. Karakterlah yang membuat bangsa Vietnam tidak bisa ditaklukkan, bahkan mengalahkan dua bangsa yang secara teknologi dan ekonomi jauh lebih maju, yaitu Perancis dan Amerika. Pembangunan karakterlah yang membuat Korea Selatan sekarang jauh lebih maju dari Indonesia, walaupun pada tahun 1962 keadaan kedua negara secara ekonomi dan teknologi hampir sama. Pembangunan karakterlah yang membuat para pejuang kemerdekaan berhasil menghantar bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannya (Gedhe Raka, 1997 ).
Pertanyaannya kemudian adalah tanggung jawab siapa pendidikan karakter bangsa ini? Tentunya semua pihak bertanggung jawab atas berlangsungnya pendidikan karakter ini. Mulai dari guru di sekolah, orang tua, pejabat, tokoh masyarakat, selebritis, teman,  dan juga media baik cetak maupun elektronik.
Menurut Azyumardi Azra (2002) Pola pembinaan pendidikan karakter bangsa harus dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyambung kembali hubungan yang nyaris terputus antara ketiga lingkungan pendidikan ini. Pendidikan karakter tidak akan berhasil selama ketiga lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan harmonisasi.

Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama mestilah diberdayakan kembali. C. Thomas Phillip berpandangan bahwa keluarga hendaklah kembali menjadi school of loves,sekolah untuk kasih sayang. Azyumardi menambahkan  bahwa dalam perspektif Islam, keluarga disebut sebagai madrasah mawwadah warrahmah, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.

Lingkungan kedua adalah sekolah. Sekolah pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat transfer ilmu pengetahuan belaka, melainkan lembaga yang mengusahakan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai. Pembentukan karakter melalui sekolah tidak bisa dilakukan semta-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi melalui penanaman nilai-nilai. Secara umum nilai biasanya mencakup dua bidang pokok yakni estetika dan etika. Estetika mengacu kepada hal-hal yang dipandang manusia sebagai “indah” apa yang mereka senangi. Sedangkan etika mengacu kepada tingkah laku yang pantas berdasarkan standar yang berlaku, baik yang bersumber dari agama maupun adat istiadat.

Setidaknya ada tidak pendekatan yang bisa dilakukan dalam usaha pembentukan karakter melalui pendidikan agama di sekolah. ,Pertama, menerapkan pendekatan modelling atau exemplary atau uswah hasanah. Yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan. Setiap guru dan tenaga kependidikan lainnya di lingkungan sekolah hendaknya mampu menjadi uswah hasanah yang hidup bagi setiap peserta didik.

Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasi kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan buruk. Usaha ini bisa dibarengi pula dengan langkah-langkah memberi penghargaan, menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah berlakunya nilai-nilai yang buruk. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih berbagai alternatif sikap dan tindakan berdasarkan nilai, melakukan pilihan secara bebas setelah menimbang dalam-dalam berbagai konsekuensi dari setiap   pilihan dan tindakan, membiasakan bertindak dan bersikap atas niat dan prasangka baik dan tujuan-tujuan ideal.

Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan akhlakul karimah. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan nilai-nilai akhlakul karimah kedalam setiap mata pelajaran yang ada di sekolah di samping mata pelajaran agama. Terhadap mata pelajaran-mata pelajaran lain pun sebaiknya dilakukan reorientasi baik dari segi isi, muatan maupun pendekatannya, sehingga mereka tidak hanya menjadi verbalisme dan sekedar hapalan, tetapi betul-betul berhasil membantu pembentukan karakter.

Lingkungan ketiga adalah masyarakat luas. Lingkungan ini memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai yang baik. Dalam konteks itu, Alquran dalam banyak ayatnya menekankan tentang kebersamaaan anggota masyarakat menyangkut pengalaman sejarah yang sama, tujuan bersama, gerak langkah yang sama dan solidaritas yang sama. Di sisnilah menurut Quraish Shihab, muncul gagasan dan ajaran tentang amar ma’ruf dan nahyi munkar serta ajaran tentang fardu kifayah, yaitu tanggung jawab bersama dalam menegakkan nilai-nilai yang baik dan mencegah nilai-nilai yang buruk.

Kekuatan akhlak dan moral yang tercermin pada perilaku yang baik dan benar merupakan inti utama ajaran Islam. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan akhlak dan moral yang baik, segala potensi yang dimiliki manusia, seperti ilmu pengetahuan, kekayaan, jabatan dan potensi-potensi lainnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama( QS. An-Nahl :97). Sebaliknya, dengan akhlak dan moral yang buruk, segala potensi tersebut akan sia-sia, bahkan cenderung merusak. ( QS.Thaaha: 124-126 ).
Menurut Dr. Sukamto setidaknya terdapat dua belas poin nilai-nilai yang perlu diajarkan kepada peserta didik dalam upaya memberikan pendidikan karakter yaitu kejujuran, loyalitas dan dapat diandalkan, hormat, cinta, ketidakegoisan dan sensitifitas, baik hati dan pertemanan, keberanian, kedamaian, mandiri dan potensial, disiplin diri dan moderasi, kesetiaan dan kemurnian serta keadilan dan kasih sayang. Selanjutnya paling tidak terdapat sembilan indicator keberhasilan membangun karakter yaitu : 1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya (love Allah, trust, reverence, loyalty) 2. Tanggung jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness) 3. Kejujuran/Amanah dan Arif (trustworthines, honesty, and tactful) 4. Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience) 5. Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation) 6. Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination, enthusiasm) 7. Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership) 8. Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humility, modesty) 9. Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan (tolerance, flexibility, peacefulness, unity).
Bila kita gagal mengedepankan pengembangan pendidikan karakter bangsa,  jangan berharap banyak akan capaian keberhasilan masa depan Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur.***

*Penulis adalah Guru PAI SMAN 1 Rajagaluh Ketua AGUPENA Kab. Majalengka e-mail       toto_jmp@yahoo.co.id

Senin, 14 November 2011

GURU FAVORIT VERSI SISWA


GURU FAVORIT VERSI SISWA
Oleh TOTO WARSITO,M.Ag.

Ada yang menarik dari rubrik Xpresi koran ini Senin kemarin (21/2), para jurnalis muda yang sebagian besar para siswa, mengangkat tema yang cukup menarik yaitu Guru Favoritku. Setidaknya itulah gambaran guru yang mereka idolakan. Memang setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda terhadap gurunya, namun pada umumnya mereka berharap bahwa guru dapat menjadi figur profesional yang bisa digugu dan ditiru.
Guru favorit adalah guru yang diidamkan serta didambakan kehadirannya oleh para siswa untuk dapat memfasilitasi mereka dalam membentuk kompetensi dirinya. Kru Xpresi Radar Cirebon sedikitnya telah mengidentifikasi sembilan siswa dari berbagai SMA/SMK/MA di Cirebon dengan pendapatnya tentang Guru Favorit versi mereka, berikut petikannya.
“Orangnya asyik dan suka bercanda. Bikin kita ngerti pelajarannya.”(Mukhtar Lutfi Rabbani,SMAN 1 Sumber). “Baik dan bijaksana, belajar cepat masuk ke otak.”(Siti Marchamah, SMAN 3 Cirebon).”Bisa membaca pikiran murid-muridnya dan bisa mengerti apa yang kita mau.”(Dewi Amandasari,SMAN 1 Cirebon).”Guru yang kocak, lucu pokoknya, sering bikin anak tertawa.”(Angga,SMKN 1 Cirebon). “Cara mengajarnya asyik dan bisa diajak kompromi, kalau memberi PR tidak banyak-banyak.”(Shifa,SMAN 6 Cirebon). “ Tidak mempersulit siswa untuk mendapatkan nilai, sabar membimbing untuk mengerti mata pelajaran yang diajarkan.”(Ayu Kartika Supriyanto).”Guru yang dekat dengan murid, bisa mengerti keadaan anak didiknya dan suka memberi saran yang positif.” (Dwi,SMAN 4 Cirebon). “Pintar, baik, tegas dan perhatian pada murid, kalau ngajar enjoy, serius tapi santai, bisa bikin ngerti dan tidak terlalu galak.” (Ratna, MA Islamic Centre). “Berwawasan luas, lucu dan dekat dengan murid, nggak judes.” (Seprudin,SMAN 1 Sukagumiwang).
Itulah sepintas gambaran pendapat para siswa tentang Guru Favorit versi mereka. Dengan bahasanya yang polos, dan ceplas ceplos, tetapi cukup mudah dipahami. Mudah-mudahan ini menjadi bahan masukan bagi para guru dalam meningkatkan pelayanan kepada para siswanya.
Pertanyaannya sekarang bagi para guru adalah sudahkah Anda menjadi guru yang difavoritkan oleh para siswanya, atau malah sebaliknya menjadi guru yang dibenci oleh para siswanya ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya para guru menjawab dulu pertanyaan seperti yang disarankan M.Hasyim Asyari (2007) sebagai berikut. 1) Apakah Anda merasa sudah menguasai materi mata pelajaran dengan baik ? 2) Apakah Anda merasa bisa menyampaikan materi dengan baik ? 3) Apakah Anda merasa siswa-siswa senang dengan cara mengajar Anda ? 4) Apakah Anda merasa menjadi guru favorit di mata para siswa ? 5) Apakah Anda banyak duduk saat mengajar ? 6) Apakah Anda sering ke toko buku meskipun hanya sekedar membaca, jarang membeli ? 7) Apakah Anda merasa enjoy menjadi guru ?
Namun biasanya susah juga melakukan penilaian terhadap diri sendiri, karena itu tidak ada salahnya minta bantuan kepada orang lain untuk menilai diri Anda. Dan yang paling fair memberikan penilaian tentang kualitas mengajar Anda, pastilah siswa-siswi Anda sendiri. Untuk itu buatlah angket dan mintalah tolong guru lain (misalkan guru BP) untuk menjalankan tugas ini. Dari angket tersebut, bisa diketahui apakah Anda termasuk guru yang mempunyai kemampuan mengajar dengan baik atau tidak. Termasuk guru yang menjadi favorit siswa, atau malah guru yang dibenci siswa.
Kiat sukses jadi Guru Favorit
Ilmu pengetahuan yang dimiliki guru tidak akan banyak berguna bagi siswa, jika tidak didukung dengan kemampuan menyampaikan materi dengan baik. Banyak ditemukan beberapa guru yang pandai secara penguasaan materi pelajaran, tetapi kurang mempunyai kemampuan untuk mentransfer ilmunya kepada siswa. Untuk itu kiat pertama adalah kemampuan komunikasi yang baik. Komunikasi merupakan salah satu aspek yang akan menentukan apakan guru akan dibenci siswa atau malah selalu ditunggu kehadirannya oleh para siswa dengan perasaan senang dan bahagia.
Berikut disampaikan tujuh trik komunikasi di depan kelas yang akan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. 1) Blocking panggung,seluruh ruangan kelas selain bangku yang diduduki siswa adalah panggung yang harus dijelajahi guru. Jangan terlalu sering duduk di kursi,atau hanya selalu berdiri di bagian depan kelas. Siswa yang di belakang akan merasa tidak diperhatikan. 2) Buka materi dengan indah, membuka materi dengan sukses, merupakan kegiatan awal yang sangat menentukan dalam pembelajaran. Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. 3) Bangun kedekatan dengan siswa, guru perlu membangun kedekatan dengan siswa, ini merupakan salah satu cara untuk membangun jembatan komunikasi dunia siswa dengan dunia guru. Beberapa cara bisa dilakukan diantaranya kenali namanya, tawarkan bantuan, pahamilah latar belakang dan minatnya. 4) Belajarlah membuat ice breaking (pemecah kebekuan ),  kemampuan konsentrasi siswa ada batasnya. Belum lagi faktor internal siswa saat di kelas. Mungkin sudah cape, lapar dan mengantuk sehingga menambah beban berat guru bisa tampil hebat. Untuk memecah kebuntuan otak siswa dan mengembalikan lagi daya konsentrasi siswa, guru harus kreatif dengan berlatih membuat ice breaking. Bisa berupa cerita konyol, teka-teki, berbicara yang diplesetkan, intonasi suara dan mimik yang lucu dan bisa juga permainan. 5) “Bacalah” siswa Anda, seorang guru harus bisa menyelami, apakah siswa telah mengerti materi yang diajarkan. Guru harus kreatif jika di kelas ada siswa yang mulai mengobrol, lakukan interaksi dengan memberikan umpan balik. 6) Manfaatkan seluruh modalitas, setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menangkap materi pelajaran. Ada yang cukup dengan mendengarkan guru sudah mengerti, ada yang harus dibaca berulang-ulang baru mengerti, bahkan ada yang harus merangkum dulu baru mengerti. Oleh karena itu guru harus bisa memanfaatkan seluruh modalitas belajar siswa. 7) Tutup pertemuan dengan motivasi, mengakhiri pelajaran dengan manis akan memberi kesan yang mendalam bagi siswa. Ini akan membuat Anda selalu ditunggu untuk pertemuan berikutnya.
Kiat kedua adalah penampilan. Penampilan yang disukai siswa bukan dalam konteks cakep atau cantik secara fisik. Tetapi lebih kepada inner beauty ( cantik dari dalam ). Penampilan merupakan sesuatu yang harus diupayakan dan diperhatikan.  Penampilan guru di depan kelas sangat menentukan mood siswa dalam mengikuti pelajaran. Berikut kiat tampil menarik agar siswa selalu menunggu-nunggu kehadiran guru di depan kelas. 1) Selalu tampil rapi, guru itu ibarat artis, akan menjadi pusat perhatian siswa, guru yang berpenampilan menarik akan menambah semangat siswa belajar, sebaliknya siswa menjadi kurang sreg jika guru berpenampilan acak-acakan. 2) Selalu bersemangat, guru harus selalu bersemangat mengajar meskipun sebenarnya sedang sakit. Gunakan metode pembelajaran yang berbeda untuk menghemat energi. 3) Ciptakan kesan cerdas, tampilah dengan keyakinan saat menerangkan, jangan pernah ragu. Selalu berusaha membantu siswa yang bertanya dan tidak berusaha menghindar kala ditanya soal yang sulit. Saat mengajar buku yang dibawa jangan terus dipegang. Letakkan saja di meja supaya menambah kesan gurunya pinter.
Menjadi guru yang difavoritkan semua siswa tentunya menjadi idaman semua insan pendidik. Tentunya hanya guru yang kreatif memanfaatkan potensinya serta yang mampu memahami kondisi para siswanya yang akan difavoritkan. Semoga. Wallahua’lam.

Penulis Guru SMAN 1 Rajagaluh. Guru Favorit Versi Pembaca Radar Cirebon Tahun 2007/2008

Senin, 19 September 2011

JIKA GURU HARUS MENGAJAR 27,5 JAM PERMINGGU


JIKA GURU HARUS MENGAJAR 27,5 JAM PER MINGGU
Oleh TOTO WARSITO,MAg

Persetujuan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh atas usulan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) mengenai penambahan jam mengajar minimal guru, dari 24 jam menjadi 27,5 jam per minggu, menjadi pembicaraan hangat kini di kalangan guru. Meskipun ini baru wacana tetapi berita ini mulai membuat geger kalangan guru. Betapa tidak, jangankan untuk memenuhi 27,5 jam seminggu, untuk 24 jam saja  seperti yang diwajibkan saat ini, baru 30-40 persen saja guru yang sanggup memenuhinya seperti yang disampaikan Ketua Umum PB PGRI Sulistyo. (Radar Cirebon,10/9).
Rencana penambahan jam mengajar sendiri disampaikan oleh Deputi Sumber Daya Manusia dan Aparatur Kemenpan-RB Ramli Naibaho. Menurutnya motivasi di balik rencana penambahan jam mengajar ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja guru.
Mendiknas, M Nuh mendukung hal tersebut namun jam mengajar guru jangan hanya dihitung dari berapa jam ia mengajar di depan kelas. Tetapi juga hendaknya dihitung berapa jam para guru menyiapkan hal-hal lain yang mendukung dan terkait dengan proses belajar-mengajar. Persis dengan apa yang disampaikan Ketua Umum PB PGRI Sulistyo, dia berharap jika kegiatan profesi guru yang lain di luar kelas seperti mempersiapkan materi, melakukan pembimbingan siswa, termasuk mengoreksi nilai  dan melakukan analisis juga dimasukkan dalam poin. Bahkan teman saya ada yang berseloroh, ya kalau begitu 34 jam juga tidak masalah.
Namun yang menjadi masalah adalah ketika Kemenpan-RB menganggap bahwa 27,5 jam itu adalah tatap muka di depan kelas. Hal ini yang akan memberatkan para guru. Betapa tidak, bisa dibayangkan bagi guru-guru yang mengajar di sekolah menengah (SMA/SMK) misalnya, yang memiliki alokasi waktu hanya 2 jam per minggu seperti guru PAI, Pkn, Seni Budaya dan lainnya. Berarti, untuk memenuhi kewajiban minimal mengajarnya  ia harus mengajar di 14 kelas untuk seorang guru. Jika di sekolah tersebut terdapat dua guru mata pelajaran yang sama berarti harus ada 28 kelas. Bila dibagi berdasarkan tingkatan kelas, berarti minimal harus tersedia 9 kelas per tingkatan. Apalagi jika guru mata pelajaran yang sama di sekolah tersebut lebih dari dua. Yang paling membuat para guru stress dalam menghadapi kebijakan ini adalah manakala hal ini terkait dengan persyaratan pencairan tunjangan profesi bagi guru yang sudah lulus sertifikasi. Dengan tidak bisa memenuhinya minimal beban kerja guru, berarti akan banyak guru yang tidak akan mendapatkan tunjangan profesi.
Yang menarik bagi penulis adalah pernyataan Mendiknas M Nuh yang membolehkan para guru untuk mengajar mata pelajaran lain selain yang diampunya untuk memenuhi beban kerja tersebut. Pernyataan ini sekilas agak bertentangan dengan prinsip profesionalisme, yang diartikan secara sempit sebagai mengajar sesuai dengan kompetensinya. Agak membingungkan memang.
Tetapi setelah penulis membaca pernyataan Mendiknas, penulis teringat pada teori yang disampaikan Neil Postman dalam bukunya The End of Education (2005), Postman mengemukakan gagasan yang agak lucu. Dia hendak meningkatkan kamampuan seorang guru untuk mengajar dengan baik hanya dalam waktu semalam. Caranya, para guru matematika ditugaskan mengajar kesenian, guru-guru kesenian mengajar ilmu pengetahuan alam, guru ilmu pengetahuan alam ditugaskan mengajar bahasa Inggris. Alasan dia, kebanyakan guru, terutama di tingkat sekolah menengah atas, mengajarkan mata pelajaran-mata pelajaran yang menurut mereka bagus dan menarik, atau pada intinya mereka menyukai pelajaran tersebut. Mereka menganggap pelajaran itu mudah dan menyenangkan. Hasilnya, mereka tidak  mungkin memahami bahwa orang-orang lainnya ternyata tidak menyukai pelajaran-pelajaran itu, atau mereka tidak mempedulikannya, atau bahkan kedua-duanya. Apabila selama satu semester setiap guru ditugaskan mengajar satu mata pelajaran yang tidak dia sukai, atau pelajaran yang bisa menimbulkankesulitan-kesulitan baginya, maka guru itu akan dipaksa melihat situasi yang juga dialami oleh para siswa, dia akan melihat sesuatu dari pandangan guru pemula daripada guru senior. Barangkali dia akan menyadari betapa menjemukannya buku-buku teks. Mereka akan belajar memahami betapa menggelisahkannya rasa takut yang kemudian berakibat pada kekeliruan. Mereka barangkali akan menyadari bahwa sebuah pertanyaan yang mengandung rasa ingin tahu, harus diabaikan karena pertanyaan seperti itu tidak termasuk dalam silabus. Atau mereka akan menjumpai adanya siswa-siswa yang mengetahui pelajaran secara lebih baik daripada apa yang diketahui dan diharapkan oleh dirinya.  Semoga saja apa yang disampaikan Mendiknas adalah dalam rangka ini.
Kaitannya dengan pemenuhan jumlah jam mengajar, belum lama ini ada edaran dari Kemendiknas tentang Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional (Permendiknas) No 30 tahun 2011 tertanggal 1 Agustus 2011 yang berisi Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 39 tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan. Permendik nas No 30 tahun 2011 pada pasal 5 dinyatakan dalam jangka waktu sampai 31 Desember 2011, guru dalam jabatan yang bertugas selain di satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada pasal 3, dalam keadaan kelebihan guru pada mapel tertentu di wilayah kabupaten/kota, dapat memenuhi beban mengajar minimal 24 jam tatap muka dengan cara, a) mengajar mapel yang paling sesuai dengan rumpun mapel yang diampunya dan/mengajar mapel lain yang tidak ada guru mapelnya pada satuan administrasi pangkal atau satuan pendidikan lain; b) menjadi tutor program Paket A, B, C, Paket C Kejuruan atau program pendidikan lain; c) menjadi guru bina/pamong pada sekolah terbuka; d) menjadi guru inti/instruktur/tutor pada kegiatan kelompok kerja guru/musyawarah guru mapel (KKG/MGMP); e) membina kegiatan ekstrakurikuler; f) membina pengembangan diri peserta didik; g) melakukan pembelajaran bertim (team teaching); h) melakukan pembelajaran perbaikan (remidial teaching).
Meskipun nampaknya pemerintah dalam hal ini sudah memberikan solusi, namun jika betul pemerintah ingin meningkatkan kinerja para guru, harusnya pemerintah memiliki tata cara yang lebih baik dan betul-betul memperhatikan kondisi guru di lapangan. Kita dukung harapan dari PB PGRI agar pemerintah lebih dulu menuntaskan persoalan pembinaan guru yang sudah berjalan seperti masalah sertifikasi     agar betul-betul menyentuh terhadap peningkatan profesionalisme guru, semoga. Wallahu’alam.
Penulis
Guru SMAN 1 Rajagaluh, Ketua Asosiasi Guru Penulis
Sekum AGPAII Kab. Majalengka